Crow Speed QB Tolak Normalisasi Kekerasan di Dunia Maya dan Kehidupan Nyata
TRENDETIK.COM, JAKARTA – Crow Speed QB terus menunjukkan komitmennya dalam membangun kreativitas dan sportivitas di kalangan anggotanya. komunitas yang berisikan para gamer online yang juga memiliki grup airsoftgun ini aktif menggelar latihan rutin sekaligus menegaskan sikap menolak konten kekerasan yang marak di media sosial maupun game online.
Salah satu pendiri komunitas, Andrie muchtar hidayat, menjelaskan bahwa kegiatan Crow Speed QB difokuskan pada pengembangan kemampuan dan menjaga keselamatan dalam berolahraga.
“Kami biasanya mengadakan latihan setiap minggu untuk mengasah kemampuan. Selain itu, ada juga sparring dan mengikuti turnamen yang diadakan setiap tahunnya,” ujar Andrie.
Menurutnya, dalam setiap aktivitas, aspek keamanan dan keselamatan menjadi prioritas utama. Karena itu, komunitasnya menolak keras segala bentuk konten kekerasan yang beredar di media sosial.
“Untuk konten kekerasan, kami menolak keras. Di dalam area olahraga, kami menjunjung tinggi keamanan dan keselamatan,” tegasnya.
Andrie menilai penyebaran konten kekerasan di dunia maya memiliki dampak signifikan terhadap generasi muda. Ia menyoroti potensi perubahan pola pikir serta menurunnya sensitivitas terhadap kekerasan apabila tidak dibarengi literasi digital dan pengawasan yang memadai.
“Menurut saya sangat berpengaruh, terutama pada pola pikir dan sensitivitas terhadap kekerasan, apalagi jika tanpa literasi dan pengawasan yang baik,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam mencegah normalisasi kekerasan di ruang digital. Masyarakat dinilai perlu meningkatkan literasi digital agar lebih bijak dalam memilah dan memilih konten. Komunitas juga diharapkan aktif memberikan edukasi kepada anggotanya terkait dampak konten negatif.
Selain itu, pemerintah diminta memperkuat pengawasan terhadap penggunaan platform media sosial, khususnya terkait penyebaran konten kekerasan.
Andrie berharap generasi muda tidak mengimplementasikan konten kekerasan yang ditemui di media sosial maupun game online ke dalam kehidupan nyata.
“Harapannya, dalam menggunakan media sosial lebih bijak lagi dalam memilah dan memilih. Jangan sampai konten kekerasan, baik dari media sosial maupun game online, dinormalisasikan dalam kehidupan nyata,” pungkasnya.
