JAKARTA, TRENDETIK.COM, Universitas Dian Nusantara (UNDIRA) menghadirkan talkshow bertajuk “Ketika Jurnalisme Dibajak Algoritma” di Aula Lantai 6 Kampus Tanjung Duren, Jakarta Barat, Sabtu (29/11). Acara ini menjadi wadah bagi mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Bisnis dan Ilmu Sosial, dari tiga mata program, yaitu Event Manajemen, Dasar Komunikasi Pemasaran, dan Pemasaran Terpadu, untuk memahami dinamika perkembangan media dan teknologi. Turut hadir jajaran dosen dan Kepala Perpustakaan UNDIRA.
Acara menghadirkan Apni Jaya Putra, S.Sos, Penulis buku Disrupsi AI: Ketika Jurnalisme Dibajak Algoritma, yang juga Staff Khusus Kementrian Pariwisata RI sebagai narasumber. Talkshow dipandu oleh Imam Priyono, S.T., M.M., Direktur Kerja Sama, Humas, dan Pemasaran UNDIRA.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor III UNDIRA, Dr. Ir. Muhammad Hasan Toyib, M.M., menekankan bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) merupakan fenomena besar yang tidak bisa dihindari. Ia menyebut bahwa berbagai profesi kini mulai bersinggungan dengan AI, yang muncul dari hasil perkembangan ilmu pengetahuan, termasuk algoritma dan aljabar ciptaan manusia. Di akhir sambutannya, Wakil Rektor III UNDIRA menyampaikan ajakan dan doa bagi masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Aceh, yang tengah menghadapi musibah banjir.
Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi UNDIRA, Novida Irawan, M.Si., mengapresiasi terselenggaranya acara ini. Ia menilai kerja sama antara narasumber dan panitia UNDIRA berjalan lancar, sehingga mahasiswa dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperluas pemahaman mengenai komunikasi dan media. Novida menambahkan, diskusi seperti ini diharapkan menumbuhkan pandangan baru terhadap perkembangan teknologi.
Sesi talkshow kemudian dilanjutkan dengan bedah buku yang dipandu Imam Priyono sebagai moderator. Dalam paparannya, Apni Jaya Putra menyampaikan bahwa saat ini dunia memasuki era post-truth, di mana informasi bisa diproduksi sangat cepat, bahkan melebihi akurasi. Kebenaran kini tidak hanya ditentukan oleh data, tetapi oleh algoritma dan emosi kolektif. Ia menjelaskan dampak media sosial dan AI yang telah menciptakan disrupsi besar dalam alur informasi. Menurutnya, AI kini bukan sekadar alat, melainkan agen yang memengaruhi arus informasi yang diterima publik. Apni juga menyinggung fenomena walled garden, di mana platform teknologi raksasa mengontrol akses informasi bagi masyarakat.
Lebih lanjut, Apni menekankan bahwa kondisi media saat ini menghadapi tantangan karena standar media dibentuk oleh industri yang mapan. Ia mengingatkan pentingnya mahasiswa menguasai teknologi AI agar tetap relevan di masa depan. Risiko penggunaan AI, termasuk halusinasi, deepfake, disinformasi, dan hoaks, menjadi perhatian utama. Negara memiliki peran penting dalam aspek AI security dan AI safety, sementara individu dan organisasi perlu menerapkan kontrol manusia (human control) serta kode etik dalam memanfaatkan teknologi.
Isu hak cipta juga dibahas dalam konteks AI. Apni menegaskan bahwa AI tidak mengambil karya secara ilegal, melainkan belajar dari pengetahuan dasar yang disediakan manusia. Ia membagi karya menjadi dua kategori: karya otonom dan Creative Commons, yang memberi ruang bagi kreator untuk menentukan izin penggunaan karya mereka.
“AI tidak akan menggantikan pekerjaan kalian, tetapi manusia dan AI lah yang akan menggantikan pekerjaan orang lain,” pungkas Apni.
Ia menambahkan, talkshow ini juga menjadi bagian dari upayanya memperkenalkan bedah buku secara langsung. “Selain itu, UNDIRA menjadi kampus kedua yang menyelenggarakan bedah buku ini, setelah sebelumnya dijadwalkan di BINUS namun belum terlaksana. Ke depan, kami menargetkan membawa acara ini ke sepuluh kampus lain,” ujarnya.
Usai talkshow, sesi doorstop dengan awak media berlangsung. Imam Priyono menjelaskan secara panjang lebar alasan UNDIRA memilih tema ini dan tujuan talkshow. Ia menyampaikan bahwa penyelenggaraan bedah buku seperti ini bukan pertama kali dilakukan kampus. UNDIRA sebelumnya sudah menghadirkan berbagai praktisi, hingga pakar lain di bidang Keuangan, media dan teknologi. Imam menekankan bahwa tujuan utama adalah memberikan perspektif langsung kepada mahasiswa mengenai perkembangan teknologi dan AI yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Seringkali mahasiswa sudah menggunakan AI dalam keseharian mereka. Tantangan kami adalah membangun kesadaran dan pemahaman bagaimana menggunakan AI secara etis dan produktif. Kami ingin lulusan UNDIRA memiliki pemahaman yang lebih mendalam dibanding alumni kampus lain, sehingga ketika mereka terjun ke masyarakat atau menjadi praktisi, mereka sudah siap menghadapi dinamika kekinian. Kami terus membangun komunikasi dengan ekosistem praktisi, akademisi, dan asosiasi, dan rencananya ke depan pendekatan ini akan masuk ke ruang kurikulum lebih mendalam,” jelas Imam.
Ia juga menekankan keseimbangan antara teori dan pengalaman empiris, serta pentingnya menghadirkan praktisi ke kampus agar mahasiswa memperoleh pengalaman nyata yang relevan dengan pekerjaan mereka.
Apni Jaya Putra menambahkan pemaparan panjangnya di depan media mengenai perubahan industri media. Ia menyebutkan bahwa AI dan teknologi digital telah mengubah lanskap media secara drastis, mulai dari kecepatan produksi berita hingga cara masyarakat mengonsumsi informasi.
Meski AI mempercepat dan mempermudah proses jurnalistik, kontrol editorial tetap harus berada di tangan manusia agar kualitas berita tetap terjaga. Ia juga menekankan bahwa literasi digital dan etika jurnalistik menjadi hal penting agar mahasiswa tetap relevan dan mampu menghadapi risiko disinformasi dan hoaks.
Talkshow ini menjadi bagian dari upaya UNDIRA untuk membekali mahasiswa dengan pemahaman teoretis dan praktis mengenai teknologi AI, disrupsi media, dan literasi digital, sehingga mereka siap menghadapi tantangan jurnalisme di era post-truth.
