CarbonEthics Soroti Peran Blended Financing untuk Realisasikan Potensi Karbon Biru Indonesia di ISF 2026
TRENDETIK.COM, JAKARTA, 12 Oktober 2026 – Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan karbon biru sebagai bagian dari upaya menjaga ekosistem pesisir sekaligus mendukung aksi iklim dan masyarakat pesisir. Untuk mendorong potensi tersebut menjadi proyek nyata, CarbonEthics menekankan pentingnya investasi dan kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan karbon biru Indonesia.
Pesan tersebut disampaikan dalam Carbon Talk: Unlocking Blended Financing for Indonesia’s Blue Carbon Ecosystem, yang diselenggarakan CarbonEthics dalam rangkaian Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 di Jakarta.
Indonesia memiliki sekitar 3,44 juta hektare mangrove, atau lebih dari 20% luas mangrove dunia. Kekayaan ekosistem tersebut memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat kontribusinya dalam aksi iklim sekaligus menciptakan manfaat bagi masyarakat yang bergantung pada ekosistem pesisir.
Namun, untuk mewujudkan potensi tersebut dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Pengembangan proyek dengan ekosistem karbon biru membutuhkan investasi sejak tahap awal, termasuk memahami kondisi ekosistem, merancang proyek, membangun keterlibatan dengan masyarakat, serta memastikan proyek dapat berjalan secara kredibel dalam jangka panjang.
Bimo Soewadji, Co-Founder dan Chief Executive Officer CarbonEthics, mengatakan kolaborasi antara sektor publik, swasta, investor, pengembang proyek, dan masyarakat menjadi penting untuk membuka peluang pengembangan karbon biru di Indonesia.
“Indonesia tidak kekurangan potensi karbon biru. Saat ini, minat untuk membeli kredit karbon biru pun mulai tumbuh. Yang masih menjadi celah adalah pendanaan di tahap awal, patient capital untuk membawa proyek dari tahap pengembangan hingga kredit karbon pertama diterbitkan, sebelum investor besar dan pembeli karbon dapat masuk,” ujar Bimo.
Melalui sesi ini, CarbonEthics mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas peluang kolaborasi dan pembiayaan, serta bagaimana menciptakan kondisi yang memungkinkan proyek karbon biru berkembang dari tahap awal hingga menarik pendanaan lanjutan.
Sesi dibuka oleh Bimo Soewadji dan menghadirkan Shinta Kamdani, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan KADIN, serta Dr. Eddy Soeparno, MPR RI, sebagai keynote speaker.
Diskusi kemudian dipandu oleh Elle Wibisono, Ph.D., Georgetown SFS Asia Pacific, dengan menghadirkan Jan Yoshioka dari Conservation International, Dini Indrawati Septiani dari AVPN, Flora Ji dari Rubicon Carbon, dan Agus Maulidan dari AirAsia Indonesia.
Para pembicara membahas peluang dan kebutuhan pengembangan karbon biru dari berbagai perspektif, termasuk bagaimana investasi dapat mendukung proyek sejak tahap awal, bagaimana sektor swasta dapat berperan dalam pengembangan solusi berbasis alam, serta bagaimana kebutuhan pasar karbon dapat terus berkembang.
“Ada tiga hal utama yang perlu diperhatikan Indonesia dalam memanfaatkan mekanisme blended finance untuk membuka potensi karbon biru. Pertama, memastikan kualitas dan integritas kredit karbon yang dikembangkan sesuai dengan standar dan praktik yang diakui secara internasional. Kedua, memprioritaskan sumber pendanaan nonkomersial untuk mendukung tahap persiapan dan mengurangi risiko bagi pembiayaan komersial. Ketiga, memastikan manfaat ekonomi dari pengembangan karbon biru dibagikan secara adil kepada masyarakat pesisir,” ujar Shinta Kamdani.
Bagi CarbonEthics, pengembangan karbon biru juga perlu memastikan bahwa manfaat restorasi dapat dirasakan oleh masyarakat di sekitar ekosistem tersebut. Karena itu, pelibatan masyarakat secara bermakna menjadi bagian penting dalam pengembangan proyek.
“Integritas dan kualitas tinggi harus memastikan manfaat yang nyata bagi masyarakat. Manfaat bagi masyarakat tidak boleh hanya diukur dari pendapatan karbon, tetapi juga dari kontribusinya terhadap penghidupan mereka,” ujar Jan Yoshioka.
CarbonEthics melihat Indonesia berada pada momentum penting untuk menghubungkan potensi alam, investasi, inovasi, dan kolaborasi dalam pengembangan karbon biru. Dengan dukungan berbagai pihak, pengembangan ekosistem karbon biru dapat berkontribusi pada upaya restorasi, aksi iklim, dan penguatan penghidupan masyarakat pesisir.
