PERISAI Gelar Konferensi Pers Hari Kebangkitan Nasional 2026, Soroti Penolakan ART dan Militerisme

0
IMG_20260519_150721

Trendetik, Jakarta.-Konferensi pers Aliansi Persatuan Rakyat Indonesia Anti Imperialisme (PERISAI) menghadirkan sejumlah narasumber dan pembicara dari berbagai elemen organisasi mahasiswa dan akademisi. Narasumber dalam kegiatan ini yakni Juru Bicara PERISAI Dendi Sai, Akademisi STF Diryakarya Fery Kurniawan, serta Sekjen Front Mahasiswa Nasional Ridman. Acara dipandu oleh Garnel dari GMNI Jakarta Selatan sebagai moderator.

Aliansi Persatuan Rakyat Indonesia Anti Imperialisme (PERISAI) menggelar konferensi pers dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional dan Reformasi 2026 yang menandai kejatuhan rezim Orde Baru. Kegiatan ini digelar pada Selasa, 19 Mei 2026 di Sekretariat DPC GMNI Jakarta Selatan, Jalan Pancoran Buntu 2 No.1, Jakarta Selatan.

Forum ini mengusung tema “Mari Bung Rebut Kembali Kedalautan, Lawan Rezim Fasis Prabowo-Gibran”. Dalam kesempatan tersebut, PERISAI menyuarakan sejumlah tuntutan politik dan ekonomi yang berkaitan dengan isu nasional maupun internasional.

Beberapa poin utama yang disampaikan dalam konferensi pers itu di antaranya penolakan terhadap imperialisme, penolakan terhadap kebijakan ART yang disebut menggadaikan sektor kelautan kepada kepentingan asing, hingga penolakan terhadap militerisme dan keterlibatan aparat dalam ranah sipil.

Selain itu, PERISAI juga mendesak DPR RI menggunakan hak interpelasi agar Presiden Indonesia membatalkan kesepakatan dagang yang dianggap merugikan rakyat. Mereka turut menyoroti kondisi ekonomi nasional, termasuk melemahnya nilai tukar rupiah yang dinilai berdampak terhadap krisis bagi masyarakat.

PERISAI juga menyerukan penghentian tindakan represif terhadap kegiatan diskusi, nonton bareng, dan aktivitas demokratis rakyat lainnya. Dalam seruannya, PERISAI menegaskan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina serta menolak perang dan pendudukan yang dilakukan negara-negara imperialis.Konferensi pers ini dihadiri sejumlah media nasional, elemen mahasiswa, organisasi rakyat, dan aktivis anti-imperialisme.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *