Ense Da Cunha: Good Mining Practices Jadi Kunci Keberlanjutan Industri Nikel, APNI Perkuat Pemahaman Lewat TTM Series 8
TRENDETIK.COM, Jakarta – Penerapan Good Mining Practices (GMP) dinilai menjadi salah satu faktor utama dalam menciptakan industri pertambangan nikel yang berdaya saing, berkelanjutan, dan taat terhadap regulasi. Atas dasar itu, Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) kembali menggelar Training to Miners (TTM) Series 8 sebagai forum edukasi bagi pelaku usaha untuk memperkuat pemahaman mengenai tata kelola pertambangan yang sesuai dengan ketentuan pemerintah.
Kegiatan yang berlangsung di Hotel Le Meridien, Jakarta, Rabu (29/7/2026), menghadirkan peserta dari berbagai perusahaan pertambangan, pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP), asosiasi, hingga praktisi sektor mineral. Selama tiga hari, peserta akan mendapatkan pembekalan langsung dari Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM bersama sejumlah kementerian dan lembaga terkait.
Ketua Bidang Perizinan APNI, Ense Da Cunha Solapung, mengatakan perkembangan regulasi di sektor pertambangan berlangsung sangat dinamis sehingga perusahaan harus terus memperbarui pengetahuan agar mampu menjalankan operasional sesuai ketentuan yang berlaku.
Menurutnya, kepatuhan terhadap regulasi tidak hanya berkaitan dengan proses perizinan, tetapi juga mencakup pengelolaan lingkungan, administrasi perusahaan, keselamatan kerja, hingga pemanfaatan sumber daya mineral secara bertanggung jawab.
“Melalui TTM Series 8, kami ingin memberikan pemahaman yang utuh kepada pelaku industri agar setiap kegiatan pertambangan dilaksanakan berdasarkan prinsip Good Mining Practices. Kepatuhan terhadap aturan akan menciptakan industri yang sehat dan berkelanjutan,” ujar Ense.
Ia menilai masih terdapat tantangan di lapangan, terutama terkait pemahaman terhadap batas kawasan hutan, kelengkapan administrasi, dan implementasi kebijakan baru yang diterbitkan pemerintah. Oleh karena itu, APNI memandang pelatihan semacam ini sebagai langkah penting untuk menjembatani kebutuhan informasi antara regulator dan pelaku usaha.
Salah satu materi yang mendapat perhatian peserta adalah perubahan regulasi mengenai penertiban kawasan hutan. Kebijakan tersebut membawa konsekuensi bagi perusahaan tambang untuk memastikan seluruh aktivitas operasional berada dalam koridor hukum dan tidak melanggar tata batas kawasan yang telah ditetapkan.
Ense menjelaskan bahwa perusahaan perlu memahami perubahan ketentuan yang kini diatur dalam PP Nomor 45 Tahun 2025 sebagai penyempurnaan dari regulasi sebelumnya. Dengan memahami aturan tersebut, pelaku usaha diharapkan dapat menghindari pelanggaran administratif sekaligus meningkatkan kualitas tata kelola perusahaan.
Selain membahas aspek kepatuhan, TTM Series 8 juga mengulas prospek industri nikel nasional yang masih memiliki peluang besar seiring meningkatnya kebutuhan bahan baku kendaraan listrik, industri baterai, dan pengembangan hilirisasi mineral di Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, peserta juga memperoleh informasi mengenai rencana pembentukan Indonesia Mineral Exchange (IMEX), yang diproyeksikan menjadi bagian dari penguatan sistem perdagangan mineral nasional. Kehadiran bursa mineral diharapkan mampu meningkatkan transparansi transaksi sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen nikel terbesar di dunia.
APNI menilai keberhasilan transformasi industri tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada kesiapan perusahaan dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi. Karena itu, peningkatan kompetensi sumber daya manusia menjadi aspek yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan industri pertambangan modern.
Sekitar 120 peserta mengikuti TTM Series 8 dengan antusias. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan mewakili beragam perusahaan serta organisasi yang bergerak di sektor pertambangan mineral.
Ense berharap seluruh peserta mampu menerapkan ilmu yang diperoleh selama pelatihan ke dalam kegiatan operasional masing-masing perusahaan. Menurutnya, semakin tinggi tingkat kepatuhan terhadap regulasi dan penerapan Good Mining Practices, semakin besar pula peluang industri pertambangan Indonesia untuk tumbuh secara sehat, berdaya saing global, dan memberikan manfaat bagi pembangunan nasional.
“TTM Series 8 merupakan bagian dari komitmen APNI dalam mendukung terciptanya industri pertambangan yang profesional, patuh terhadap regulasi, dan mampu menghadapi tantangan masa depan melalui peningkatan kompetensi sumber daya manusia,” tutupnya.
